5 Kesalahan Yang Pernah Dilakukan Nabi Muhammad SAW Semasa Hidupnya


Salah satu doktrin utama dalam agama Islam adalah bahwa semua utusan Allah itu maksum. Artinya semua tindak langkah para Rasul itu steril dari kesalahan. Setiap apa yang disampaikannya pasti benar sebab peluang kesalahan telah ditutup rapat. Amaliah yang mereka lakukan hanya terbatas pada pekerjaan yang berhukum wajib dan sunat, tidak sampai pada ranah mubah, apalagi makruh dan haram.
Semua itu, sekali lagi, merupakan pemahaman-pemahaman aksiomatis dalam Islam dan benar adanya. Namun masalah yang muncul kemudian adalah, bahwa secara eksplisit dan implisit ternyata al-Quran menyebutkan jika Nabi Muhammad beberapa kali melakukan ‘kesalahan’. Di antara kesalahan-kesalahan tersebut adalah sebagai berikut :

Pertama, ketika Abdullah Bin Ubai Bin Salul, pentolan orang-orang munafik, meninggal, Rasulullah menyalati dan mendoakannya. Oleh sebab itu lalu Allah menegurnya: “Janganlah sekali-kali kamu menyalati (jenazah) seorang yang mati dari mereka (munafik), dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di atas kuburan mereka. Sesungguhnya mereka telah kafir pada Allah dan utusannya dan mereka mati dalam keadaan fasik.” (QS At-Taubah [09]: 84).
Kedua, Nabi Muhammad pernah mengharamkan madu dan budak perempuannya untuk diri beliau sendiri yang notabenenya dihalalkan oleh Allah. Karena itu Allah menegur beliau dengan firman-Nya berikut: “Wahai Nabi (Muhammad), mengapa kamu mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah padamu. Kamu ingin menyenangkan hati istri-istrimu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS At-Tahrim [66]: 4).
Ketiga, Nabi Muhammad memberi toleransi kepada orang-orang munafik untuk tidak mengikuti perang Tabuk, lalu Allah menegur beliau melalui firman-Nya: “Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa kamu memberi izin (untuk tidak mengikuti perang Tabuk) sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar-benar uzur (berhalangan) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?” (QS At-Taubah [09]: 43).
Keempat, Nabi Muhammad mendapat teguran dari Allah atas kebijakan beliau mengambil tebusan dari para tawanan perang Badar. Allah berfirman yang artinya: “Tidak pantas bagi seorang Nabi mempuyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuh-musuhnya di muka bumi. Kau menghendaki harta duniawi sedang Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu), dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Anfal [08]: 68).
Kelima, pada peristiwa perang Uhud Nabi Muhammad mengalami luka-luka yang cukup parah, sedangkan orang-orang Islam banyak yang melarikan diri, sehingga beliau emosi dan berkata “Akankah selamat suatu kaum jika melakukan hal seperti ini pada nabinya?!” Lalu Allah menegur beliau: “Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka.” (QS Ali Imran [03]: 128)
Dari lima fakta yang dipaparkan dalam al-Qur’an di atas, tentu saja secara awam dapat dipahami jika Rasulullah ternyata pernah melakukan sejumlah ‘kesalahan’. Dengan demikian di sini jelas terjadi kontradiksi antara sifat maksum yang harus ada pada setiap Rasul dan ‘kesalahan-kesalahan’ yang telah dipaparkan di atas. Lalu bagaimana kita memahami dan menaggapi kenyataan ini?
Rasulullah juga manusia, jadi tidak bisa terlepas dari sifat-sifat yang manusiawi (al-A‘râdhul-Basyariyah). Beliau makan, minum, tidur, sakit, gembira, susah dan lain sebagainya. Sebagai manusia, beliau juga bisa ‘lupa’ dan ‘salah’. Kejadian-kejadian di atas merupakan refleksi dari al-a‘râdhul-basyariyah beliau. Namun kemudian timbul pertanyaan: apakah hal tersebut tidak bertolak belakang dengan sifat maksum yang dimiliki oleh Nabi Muhammad? Jawabannya tentu “sama sekali tidak”. Bahkan sebaliknya, hal tersebut justru semakin mengukuhkan sifat kemaksuman beliau.
Kalau kita cermati kejadian-kejadian di atas secara spesifik, maka akan kita dapati bahwa setiap kali Rasulullah melakukan ‘kesalahan’, pasti Allah akan menegurnya. Hal tersebut sama sekali tidak merusak konsep maksum yang melekat pada beliau, namun justru semakin menguatkan pemahaman bahwa setiap apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad pasti benar dan terbebas dari setiap bentuk kesalahan. Sebab setiap kali beliau melakukan ‘kesalahan’ pasti akan ada teguran langsung dari Allah, sehingga beliau akan segera meralat ‘langkah salah’ tersebut.
Dari fakta-fakta empiris di atas dapat diambil kesimpulan bahwa konsep maksum yang ada pada diri para Rasul bukan berarti mereka tidak pernah salah. Akan tetapi ketika mereka melakukan kesalahan, maka akan datang teguran dan peringatan langsung dari Allah dan mereka akan segera memperbaiki kesalahan tersebut. Sebuah rumah dikatakah bersih, bukan berarti rumah tersebut tidak pernah kotor. Tapi ketika ada kotoran maka segera dibersihkan.
Hal yang perlu dicatat di sini adalah bahwa dibalik ‘kesalahan-kesalahan’ yang diperbuat para Rasul terdapat banyak hikmah. Di antaranya, kesalahan tersebut merupakan bagian dari proses Tasryî‘ul-Ahkâm (pemberlakuan suatu hukum) dan dalam rangka memberi contoh berijtihad.
Juga perlu diingat, standard kesalahan pada diri para Rasul tidak sama dengan standard manusia pada umumnya. Suatu perbuatan yang dianggap wajar jika dilakukan manusia biasa, bisa jadi perbuatan tersebut salah jika dinisbatkan kepada para Rasul. Sebagai contoh peristiwa dalam perang uhud. Tentu sangat manusiawi jika seseorang emosi ketika mengalami hal sebagaimana dialami oleh Rasul tadi. Tapi karena yang melakukannya adalah seorang Nabi, maka hal tersebut dianggap suatu kesalahan. “Sesungguhnya dalam diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagimu.” (QS Al-Ahzab [33]: 21)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

26 komentar:

imanhanzalah mengatakan...

Perlukah menulis tentang kesalahan nabi SAW ? Atau menulis dgn tajuk seperti ini...rasanya seperti kurang hormat..

imanhanzalah mengatakan...

Perlukah menulis tentang kesalahan nabi SAW ? Atau menulis dgn tajuk seperti ini...rasanya seperti kurang hormat..

Unknown mengatakan...

Tulisan ini juga ilmu bahwa Allah sangat tegas ketika seorang manusia berbuat kesalahan terutama kepada rasul dan nabi nya. Menurut saya insyaallah bermanfaat.

Unknown mengatakan...

Subhanallah tulisan ini sangat bermanfaat..makin membuat saya mencintai baginda Rasulullah..betapa baginda sangat di cintai Allah SWT..Allah SWT langsung menegur kekeliruan baginda..

Unknown mengatakan...

Subhanallah tulisan ini sangat bermanfaat..makin membuat saya mencintai baginda Rasulullah..betapa baginda sangat di cintai Allah SWT..Allah SWT langsung menegur kekeliruan baginda..

Nur Khotimah mengatakan...

Sebuah pertanyaan dari teman saya membawa saya kepada artikel ini. Alhamdulillah, saya jadi lebih tahu. Ini adalah ilmu yang insya alloh bermanfaat. Tinggal bagaimana hati kita menanggapinya. Terima kasih semoga ini menjadi kebaikan bagi yang menulis. Jadi ilmu bagi yang membaca 😊

Amix mengatakan...

Janganlah engkau mencacati nabi atau rasul allah, karena mereka semua maksum atau terhindar dari kesalahan, karena setiap perilaku nabi dan rasul adalah wahyu dari allah untuk diambil hikmah oleh umatnya, jadi mereka melakukan segala sesuatu bagi umatnya adalah perintah dari allah langsung bukan atas kemauan atau nafsu negatif, ingat nabi dan rosul allah itu maksum tidak melakukan kesalahan...

Amix mengatakan...

Atau terhindar dari kesalahan atas ijin allah, wallahua'lam....

pomer walter mengatakan...

YESUS KRISTUS ( Nabi ISA), tidak pernah buat salah.

Unknown mengatakan...

Saya rasa itu bukan suatu kesalahan.
Memang itu sebuah proses yang telah di gariskan oleh allah swt kepada nabinya.
Supaya kita mengambil hikmah nya dr kejadian itu....amin
Kyai H wa

Unknown mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Unknown mengatakan...

Dalil mana dalil????
Rasulullah itu sebagai tauladan: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab:21).

Abas channel mengatakan...

Alhamdulillah segala puji bagi Allah tuhan semesta alam.
Shalawat dan salam semuga selalu atas beginda nabi yg telah membawa kita dari kegelapan menuju terang menderang dalam wujud islam dan iman. Dan semuga kita sebagai umatnya mendapatkan syafaat amiin

Anonim mengatakan...

Kesalahan nabi muhammad bukanlah sebuah dosa. Semua rasul Allah itu maksum suci. Muhammad Saw. Juga seorang manusia yg memiliki nafsu makan, minum. Menurut saya nabi muhammad adalah panutan saya

Anonim mengatakan...

Krena ksmpurnanya Nabi Isa Almasih kalian yg (non islam) menyalah artikan ksempurnaanny dgn menymbahnya.

Unknown mengatakan...

Banyak komentar yang gagal paham!

Mep mengatakan...

Terserah kamu aja deh
Pilih Adam muslim atau Adam Alkitab

Unknown mengatakan...

Kontol muhammad

Unknown mengatakan...

Bacot lu mep ketemuan aja kita njing

Unknown mengatakan...

Bacot lu mep ketemuan aja kita njing

Unknown mengatakan...

Kontol muhammad

Unknown mengatakan...

Bukti Bahwa Rosulullah saw Tidak membuat Buat al Quran Tapi Datang dari Allah swt melalui Malaikat Jibril a.s

Unknown mengatakan...

Naudzubilah..... Semoga gogoy samuel dan yg menghina nabi muhamad sawa secepatnya diberi adzab allah swt

Nabi itu maksum..... Sangat suci dibanding kita


Unknown mengatakan...

Sangat bermanfaat bagi saya

Unknown mengatakan...

Subhanallah

Unknown mengatakan...

Buto pak lu

Posting Komentar