Berawal Dari Telepon Salah Sambung


Kriiiing, kriiiiing, kriiiiiing…. suara dering telpon memecah suasana malam di suatu rumah yang sepi di bilangan Kebayoran Baru.  Hana (bukan nama sebenarnya), yang saat itu sedang sendirian di rumah, bergegas mengangkat telpon itu. Sebuah suara laki2 terdengar di ujung sana, “Halo, bisa bicara dengan Urip?”  Sejenak Hana bingung, sebab tidak ada nama itu di rumahnya, sebelum menjawab, “Oooh mungkin Anda salah sambung, tidak ada nama Urip di rumah ini.”  Setelah mengucap maaf, si penelpon bukannya bergegas menutup telpon tapi malah mengajak Hana ngobrol2 dan berkenalan. Tak terasa, dua jam mereka asyik bercakap2 di telpon.
Perkenalan tak disengaja itu lantas berlanjut. Si penelpon, sebut saja Abi namanya, acap kali menelpon Hana, baik di rumah maupun di ponselnya. Anehnya, Hana tidak pernah berhasil menelpon Abi, pun tak pernah diberitahu Abi berapa nomor telponnya.  Meski jaman sudah canggih, dimana nomor telpon bisa tercatat di memori ponsel, Hana tak kunjung berhasil menelpon balik laki2 yang mulai mengisi hari2nya itu. Hingga suatu ketika, Hana memberanikan diri mengajak Abi untuk kopdar, janjian bertemu di suatu tempat. Dan Hana tak bertepuk sebelah tangan, karena Abi segera mengiyakan ajakan itu. Disepakati mereka akan bertemu di suatu kafe di bilangan Jl. Thamrin pada suatu malam Minggu.
Rasa penasaran Hana terjawab saat seorang lelaki gagah mendekati mejanya di kafe yang cukup ramai itu. Tangannya yang kekar menjulur dan terdengarlah suara lembut yang biasa hanya didengarnya di telpon. “Halo Hana, saya Abi, sudah lama menunggu?” Hana terkesiap takjub, tak menyangka sesosok yang selama ini hanya didengar suaranya sekarang sudah berdiri tegak di dekatnya. Sebersit bau wangi menusuk hidungnya saat lelaki itu menarik kursi dan duduk tepat di sebelahnya.
Kencan pertama berlangsung hangat. Keduanya seolah sudah saling mengenal lama, sehingga pembicaraan tidak diawali dengan basa-basi tapi sudah cukup mendetail. Tak terasa waktu telah larut, Hana memutuskan untuk beranjak pulang. Abi mengantar sampai Hana mendapat tumpangan taksi menuju rumahnya.  Hubungan keduanya kian rapat, tak sekedar telpon-telponan, tapi kencan-kencan berikutnya mengalir lancar. Tak kurang sebulan sekali mereka bertemu, di tempat yang sama dan di waktu yang sama. Kadang tanpa janjian terlebih dahulu, keduanya seolah saling sepakat tuk datang ke tempat kencan pertama itu. Hingga akhirnya keduanya sepakat berpacaran, setelah kurang lebih 5 kali bertemu.
Di kala sedang tidak bertemu dengan Abi, Hana tetap menghabiskan waktunya dengan teman-temannya, baik di dugem maupun durah (dunia cerah *halah*). Ajaibnya, si Abi tahu persis apa yang Hana lakukan, meski Hana tidak pernah menceritakan. Hal ini membuat Hana bertanya2, tapi dipendamnya.
SMS Kecelakaan Mobil
Tak terasa hubungan keduanya telah berjalan hampir setahun lamanya. Besok adalah peringatan setahun mereka berkenalan. Hana mendapat pesan singkat (sms) di ponselnya, dari Abi, yang berisi: Yang, aku kecelakaan mobil di tol Padaleunyi. Jenguk aku di UGD RSHS ya. Love, Abi  Terkejut Hana membaca pesan singkat itu. Ditemani kakaknya Arif (nama samaran), Hana segera pergi ke Bandung, meski saat itu waktu sudah menjelang tengah malam.  Sekitar jam 03.00, Hana dan kakaknya tiba di UGD RS Hasan Sadikin Bandung. Di meja informasi, Hana menghampiri perawat jaga dan menanyakan apakah ada pasien bernama Abimanyu Heryanto (nama asli Abi). Sejenak perawat membuka-buka arsip dan kembali dengan gelengan kepala.
Hah? Dimana Abi?, pikir Hana mulai cemas. Penasaran Hana coba bertanya apakah ada korban kecelakaan mobil Lancer GL plat Jakarta di tol Padaleunyi sore tadi. Lagi2 gelengan kepala.  Tiba2 perawat lain yang berada di dekat mereka berkata, “Tidak ada nama pasien Abimanyu Heryanto di sini saat ini, tetapi 2 tahun yang lalu! Dia tewas terjepit mobilnya yang ringsek menabrak pagar pembatas tol. Kebetulan adik saya teman kuliahnya di Jakarta. Jenasahnya sudah dibawa dan dimakamkan oleh keluarganya, Mba!”
Hana tak mampu mendengar apa2 lagi. Tubuhnya lemas dan tiba2 lunglai, jatuh terkulai di lantai RS yang dingin. Arif yang ikut shock mendengar kabar itu, segera memapah Hana duduk di kursi tunggu.  Setelah Hana mampu menguasai diri, Arif meninggalkannya sejenak dan bertanya pada perawat jaga apakah tahu dimana alamat Abi. Setelah mendapatkan alamat rumah Abi di Jakarta, Arif segera mengajak Hana untuk bergegas kembali ke Jakarta.
Siapa Abi sebenarnya?
Jam 8.00 pagi, mereka tiba di depan sebuah rumah besar di bilangan Condet. Rumah itu sepi, cuma ada seorang supir yang sedang mencuci mobil Mercy di halaman depan.  Hana masih tak kuasa beranjak keluar mobil. Arif masuk sendirian dan bertanya apakah betul ini rumah Abi.  Supir sejenak terkejut mendengar seorang asing bertanya anak majikannya yang sudah meninggal tepat 2 tahun yang lalu itu. Tak banyak kata, segera dipersilakannya Arif untuk masuk menemui majikannya.  Arif dan Hana duduk di teras yang lapang, saat seorang lelaki tua keluar dari dalam rumah. Wajahnya sedikit terlihat gundah, mungkin sudah diberitahu sang supir apa maksud kedatangan kedua tamu asing itu.
Wajahnya kian gundah saat tahu bahwa Hana mengenal Abi sejak setahun yang lalu, tepat setahun setelah kematiannya. Dengan suaranya yang berat, pak Gunadi (bukan nama sebenarnya), bertanya bagaimana Abi biasa menghubungi Hana. Ternyata nomor telpon yang biasa dipakai Abi menelpon adalah nomor ponsel Abi yang sudah lama tidak aktif lagi.
Pak Gunadi bercerita bahwa Abi adalah anak laki2 satu2nya di keluarga ini. Kuliah di Bandung dan meninggal saat mengemudi mobilnya di tol Padaleunyi sekembali dari Jakarta mengantar kepergian mantan kekasihnya kembali ke Jerman. Ya Abi dan kekasihnya putus tepat di hari kematian Abi. Mungkin hal itu yang menyebabkan Abi gundah dan akhirnya tak mampu mengendalikan mobil Lancer GLnya saat tergelincir di aspal yang licin akibat hujan deras saat itu. Tak lama muncul seorang perempuan tua, mungkin ibunya Abi, yang membawa sebuah foto berbingkai. Hana terkejut setengah mati saat melihat wajah di foto tersebut. Ya! Itu Abi yang selama setahun belakangan ini menjadi ‘pacar’nya itu.
Lantas, siapakah laki2 yang sering menelpon dan beberapa kali berkencan dengannya itu?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar