Islam dan Ilmu Pengetahuan


Oleh : H. Usep Romli H.M.
ALQURAN sebagai sumber segala sumber ajaran Islam, memberi peluang seluas-luasnya kepada manusia untuk menuntut ilmu pengetahuan dan menerapkannya bagi kesejahteraan umat manusia keseluruhan, baik di dunia maupun di akhirat.

Prinsip para ilmuwan muslim beriman (ulul albab), setiap menemukan fenomena-fenomena baru dalam berbagai eksperimen dan penyusunan kaidah-kaidah keilmuan adalah bertasbih kepada Allah SWT serta memohon perlindungan-Nya dari siksa api neraka (Q.S. Ali Imran: 191).

Hal ini untuk menegaskan agar setiap karya yang mereka telaah dan sebarluaskan, senantiasa membawa maslahat bagi ummat. Tidak menimbulkan bencana berupa kerusakan dan kehancuran, baik moral maupun material.

Ilmu pengetahuan dan teknologi, sebagai bagian tak terpisahkan dari ajaran Islam, senantiasa berjalan dalam satu koridor lurus. Satu sama lain saling menunjang keberdaan masing-masing. Ilmu pengetahuan senantiasa mengandung unsur-unsur syiar Islam yang menjadi rahmat bagi semesta alam (Q.S. Al Ankabut: 107).

Sehingga setiap produk iptek menjadi sebuah ibadah dalam memenuhi perintah Allah SWT, sekaligus amal saleh bagi semua umat manusia.

Dorongan kuat dari ajaran Islam untuk menuntut, mengembangkan, dan menerapkan ilmu pengetahuan, tercantum antara lain dalam Q.S. Al Mujadalah: 11 yang menyatakan, Allah SWT akan meninggikan derajat orang-orang beriman dan berilmu. Juga dalam Q.S. Ar Rahman: 33. Di situ Allah mempersilakan jin dan manusia menembus angkasa luar asal terlebih dulu memiliki kekuatan ilmu pengetahuan (sulthan).

Hanya saja, pada masa-masa mutakhir ini telah terjadi pemisahan (sekularisasi) antara iptek dengan Islam. Seolah-olah iptek bagian kehidupan duniawi (keduniaan) dan Islam hanya mengurus ukhrawi (keakhiratan) belaka. Sehingga iptek di satu pihak membawa maslahat, di pihak lain menimbulkan madarat. Hal ini terjadi karena iptek lepas kendali dari ajaran Islam dan umat Islam menyia-nyiakan kesempatan menguasai serta mengembangkan iptek, karena pemahaman mereka terhadap Alquran semakin minim.

Memang, penyalahgunaan iptek untuk pemuasan nafsu duniawi sudah terjadi sejak ribuan tahun lampau. Sejak zaman Nabi Musa Alaihissalam, sekitar 2.000 tahun sebelum Masehi. Alquran mengisahkan perbuatan Samiri, seorang intelektual Bani Israil.

Ketika Nabi Musa sedang bermunajat di Gunung Tursina, Samiri membuat patung anak sapi dari emas, perak, dan perhiasan lainnya. Patung anak sapi itu dapat bersuara. Samiri berbicara kepada Bani Israil:

Inilah sembahanmu dan sembahan Musa. Lupakanlah Musa yang meninggalkan kita (Q.S. Thaha: 88). Nabi Harun, asisten Nabi Musa, melarang Bani Israil mengikuti ajakan Samiri. Sebab yang patut disembah hanyalah Allah Yang Maha Kasih (Q.S. Thaha: 90). Tapi mayoritas Bani Israil sudah terpengaruh oleh Samiri. Mereka beramai-ramai menyembah patung anak sapi.

Nabi Musa mengusir Samiri agar pergi jauh dan jangan lagi mendatangi Bani Israil untuk menerima siksa sangat berat kelak. Patung anak sapi buatannya dibakar dan abunya ditaburkan ke laut (Q.S. Thaha: 97).

Kelakuan Samiri terwariskan hingga kini. Bahkan berkat dukungan teknologi tinggi canggih, kini dapat dihasilkan benda-benda yang lebih hebat corak dan dampak kerusakannya. Karya Samiri dulu hanya memengaruhi kelompok-kelompok Bani Israil. Sedangkan karya "Samiri modern" memukau segenap penghuni jagat. Apalagi di tengah kebebasan berpendapat, berkreasi, dan bereksistensi, sosok penegur dan pencegah semacam Nabi Musa, sudah tidak ada lagi. Jika ada akan dianggap melanggar HAM, merusak kebebasan berekspresi, dan tidak seusai dengan prinsip demokratisasi. Bagi para "Samiri modern", agama terutama Islam, tidak boleh ikut campur dalam urusan iptek, sekalipun hasil iptek itu menimbulkan kerusakan akidah, akhlak, ibadah, dan muamalah yang meresahkan dan memprihantinkan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar